Jumat, 02 November 2012

Musim Gugur


Musim gugur.
Daun jingga berguguran, angin berhembus. 
sejuk, agak dingin, kering.
 Aku berjalan dalam sepi,
mendendangkan lagu meniru dentingan.
 ... dan akhirnya kau datang. Senyumku mengembang.
 Bagai daun yang ingin jatuh dari rantingnya, hatiku juga (ingin) jatuh, padamu.
Jingga warnanya, aku tersenyum padamu. Berharap.

Kau menawarkan pelukan, untukku. Kau juga berikan suatu yang lain.
Musim gugur yang hangat.

Kita bercanda, kita tertawa, tanpa peduli angin semakin berhembus kencang.
Aku bercerita padamu, kau mendengarkan kisahku.
Aku tertawa, kau tersenyum padaku.
Sungguh indah.
Malam pun sudah tak sama.
Engkau di sana, tapi aku merasakannya di sini. di hati.
Oh Tuhan, apakah ini musim gugur terindah?

Suatu hari, engkau meraih tanganku. Erat.
Kita bergandengan tangan. Kuat.
Kau mau membawaku ke mana?
Aku memandang kejauhan, jalanan sudah menjadi jingga.
Kita melangkah. Kau berikan senyum untukku. Hangat.
Tak kan kulepas. 

Tak kusadari musim gugur ini akan berakhir.
Tak sehangat dulu, hanya dingin kurasakan.
Daun semakin kering, menggelap.

Kau juga.
Kau musim gugurku, telah berubah.
jemariku sudah tak kau genggam.
Hatiku telah kau gugurkan, kau biarkan kering.
lalu beku.

Aku benci musim ini.
Sudah tak ada jingga, hanya putih sepanjang pandangan mata.











 



Senin, 06 Agustus 2012

Kisah Manis Hari Jumat


Hari ini bukan hari biasa. Seharian, mataku sudah cukup lelah harus memandangi layar monitor. Aku angkat tasku dengan penuh semangat, menyambut akhir pekan.

"Gue pulang ya....", senyumku merekah ke rekan kerjaku. "Sampai jumpa besok Senin"

Keluarnya dari sana, aku melangkah pasti menuju halte transjakarta. Kali ini, berbeda dari biasanya, aku memilih halte yang lain.  Aku hanya tak ingin mengantri terlalu lama. Pengalaman terakhir mengantri selama 1,5 jam penuh sangat membuang waktu dan menguras tenaga. Maka kupilih halte ini walaupun aku harus berdiri selama 1 jam perjalanan, yang penting lebih cepat sampai.

Karena ini hari Jumat, banyak yang ingin pulang tepat waktu. Halte penuh dengan calon penumpang. Tak perlu kuatir, bus pun datang. Aku terdorong masuk ke bagian belakang bus yang notabene itu area laki-laki. Berjinjit sedikit, berusaha meraih pegangan. Bus pun berangkat.

Baru saja berhenti di satu halte berikutnya, aku menengok ke belakang. Banyak calon penumpang baru yang akan masuk. Oh Tuhan, semoga aku kuat selama satu jam ke depan. Pintu bus terbuka, akhirnya bagaikan zombie kelaparan penumpang-penumpang masuk. Muncul seorang laki-laki muda,  terlihat kesal berdiri di sampingku. Ia menengok, aku membuang muka, malu kalau lagi memperhatikan dirinya. Pintu bus tertutup, bus mulai bergerak.

Bus bergoyang ke sana kemari. Karena aku berpegangan dengan tangan kanan, sedangkan dia kedua tangannya bergelayutan, tanpa sengaja lenganku dan lengannya bersentuhan. Ia menengok tapi diam saja. Mau bergeser juga tak bisa.

Karena hanya kemacetan yang terlihat di luar sana atau pemandangan Monas dengan lampu warna-warninya, akhirnya aku malah memperhatikan laki-laki sebelahku. Tubuhnya agak gemuk mengenakan poloshirt biru tua, matanya yang sipit dibingkai manis dengan kacamatanya, potongan rambutnya sangat cocok dengan bentuk wajahnya yang bulat.

"Eh maaf..", ucapku pelan. Baru saja bus transjakarta yang kutumpangi ngerem mendadak. Otomatis, tubuhku bertubrukan dengan tubuhnya. Dia melihatku, diam saja. Aku menarik napas, membuangnya pelan. Lalu, aku memperhatikannya lagi. "Dia siapa ya? Kerja di mana? Mengapa wajahnya begitu kesal?"

... dan ia menoleh padaku. Lagi. dan aku membuang muka. Lagi.

Aku putuskan untuk tidak memperhatikannya. Malu, alasanku. Aku mengarahkan pandanganku ke seorang bapak, yang berdiri di ujung. Kepalanya mengangguk-angguk, matanya sesekali terpejam. Ia mengantuk. Pasti hari ini ia sudah bekerja keras dan ingin pulang cepat, bertemu istri dan anaknya.

Bahuku ditepuk. Olehnya. Laki-laki berpoloshirt biru tadi. Iya, yang disebelahku. Aku menoleh, ia menunjuk kursi kosong di depannya. Meminta agar aku duduk. "Terima kasih, ya". Ia mengangguk. Jadi, sekarang aku duduk berhadapan dengan dirinya yang sedang berdiri. Bus kembali bergerak. Aku jadi memperhatikannya lagi. Dia masih diam saja, memandangi pemandangan di luar bus. "Kesal kenapa sih wajahmu itu?" Dan dia kembali melihat ke arah ku! Oh Tuhan, aku malu.

Bus berhenti. Dia bergerak pelan menuju pintu. Oh dia sudah sampai tujuannya. Semoga dia cepat sampai rumah, istirahat dan kembali ceria. Aku memandangi punggungnya, dan ia menengok ke arahku. Kali ini aku tak membuang muka, tak tersenyum juga. Ia keluar dari bus, berjalan keluar. Aku tersenyum.

"Terima kasih lho, buat bangkunya" . Aku memejamkan mata, perjalananku masih setengah jam lagi. "Semoga kita bertemu lagi ya,  saat wajahmu sudah cerah."


***



Sabtu, 14 Juli 2012

Mayo's : Thom Yum Zoup



Thom, Yummy dan Zoupy adalah anak Mayo angkatan kedua. Sekarang ketiganya sudah tersebar ke seluruh penjuru mata angin. Thom, si jantan putih paling aktif, hobi banget main tali dan kardus. Yum, si cantik imut-imut dan yang terakhir Zoup, si jantan galak tapi takut-takut. Miss you, all.


Thom & Yum : "Kiss"


Zoup & Yum : "Sleep(y)" 




Kamis, 07 Juni 2012

"...kamu kenapa..?" #1


"...kamu jangan sedih..."
Senin, 14 Mei 2012

Kisah Bersama Copet


Diawali dari membaca kisah fantastis @pipis yang habis menyelamatkan seseorang dari pencopet di Kopaja, saya terpikir untuk bercerita kisah-kisah bersama copet juga (disela-sela kerjaan kantor yang menumpuk).

Kisah Pertama (Angkot M.37 Jurusan Senen - Pulo Gadung)
Waktu itu saya masih SMA hendak pulang dari sekolah ke rumah bersama salah satu teman saya. Saya duduk di barisan 6 (angkot kan ada barisan 4 dan 6 itu lho! Yang 4 deket pintu, yang 6 di belakang supir) urutan 3 dari sopir. Nah, yang dibelakang sopir persis ada bapak-bapak berkemeja coklat rapih sekali! Di sebelahnya itu temannya kemeja putih bawa map segambreng-gambreng, baru disebelah bapak itu saya. Di depan hadapan saya ada mas-mas.

Beberapa lama, ada montir naik bawa dirigen oli, ribet sekali. Lalu, si mas-mas depan saya ini ngajak ngobrol si montir. Saya yang tadinya memperhatikan jalan, jadi teralihkan pembicaraan mereka. Nah di sini dia modusnya! Bapak Kemeja Putih tiba-tiba mapnya berantakan, dia duduk agak-agak riweh, lalu Si Bapak Kemeja Coklat tiba-tiba meraba-raba paha di mana HP ada di kantong sebelah kanan. Aku terkesiap! Lalu saya berteriak dong ke dia, "HP saya!! Hp saya Balikin!!" 

Kata si Bapak Kemeja Coklat, "Lho kenapa saya? Jatoh kali neng, kan ditaruh di kantong!" Lalu saya balik bertanya "Kok Bapak tahu, saya taruh di kantong?"
Herannya, satu angkot itu nggak ada yang bantu saya buat cari HP yang entah di mana. Angkot juga masih berjalan. Teman saya langsung takut, saya teriak lagi, "Kalau HP saya belum ketemu, nggak boleh ada yang turun pokoknya". Tidak lama kemudian, ada suara dug! terdengar. Suara HP saya jatuh. Saya segera menengok ke kolong bangku dan gotcha! itu dia HP saya, tepat di bawah bangku si bapak kemeja coklat.

Tiba-tiba hampir semua penumpang turun. Ini dia masa-masa deg-deg-annya. Sisanya tinggal saya dan teman, mas-mas di depan saya, bapak kemeja coklat dan putih. Saya kan duduk jadi paling belakang angkot, si bapak kemeja coklat dan putih persis di belakang sopir, dekat dengan pintu keluar. Jadi, saya tidak bisa keluar. Angkot masih berjalan. Sampai akhirnya kita di Terminal Pulo Gadung,  kita turun, si bapak dua ini ngeliatin saya terus. Alhasil, Saya puasa naik angkot M.37 untuk beberapa waktu.

Kisah Kedua (KRL Bekasi - Kota)
Di Kisah kedua ini, saya pergi sama mama. Ceritanya kita mau ke Mangga Dua. Karena kami dari Stasiun Cakung dan KRL sudah penuh sama penumpang, kita berdiri deh. Perjalanan pun berlanjut.
Tiba-tiba di Stasiun Jatinegara, masuk seorang mas-mas kaos hijau bawa-bawa ransel, pakai sepatu olahraga rapih, dan earphone terpasang di telinga. Dia berdiri di sebelah mama.

Dari arah yang lainnya,  datanglah seorang mas-mas tukang sapu kereta (yang biasanya akhirnya minta-minta uang ke kita). Pas udah deket ke arah arah saya, tiba-tiba dia berteriak "kecoa... kecoa bu... awas kecoaaa...".  Aku yang merasa terganggu, lalu melihat ke arah dia. Dia sibuk membanting-banting sapu seakan-akan mau membunuh kecoa. Lalu aku menengok ke arah mama, dan yang aku lihat adalah mas-mas kaos hijau memasukkan tangannya ke tas mama!! Aku pun ke arah mama, "Kecoanya bukan di tas mama saya mas!!". Mama kaget, lalu mengoceh panjang sekali. Para penumpang yang melihat bersorak dan saya tak tahu deh apa yang terjadi setelah mereka berdua digiring petugas.

Kisah Ketiga (Metro Mini 44 Pulo Gadung - Pulo Gebang)
Kali ini saya pejuang sendiri. Saya duduk tepat di belakang supir memakai tas selempang betty boop merah. Tidak lama datang seorang pria membawa jaket di tangan. Lalu, tiba-tiba saya merasakan sesuatu meraha bagian paha saya (paha saya sudah sering ternoda :[ ). Begitu saya melihat ke arah dia, ternyata tas saya sudah terbuka setengah resletingnya! Lalu saya mengangkat tas saya dan menutup resletingnya di depan hadapannya, sambil senyum. Hehe. Lalu dia terlihat gelisah dan pindah duduk ke belakang. Saya memandangi dari cermin yang ada di atas sopir.

Terlihat dicermin si pria berdiri di pintu dekat kondektur. Lalu, seorang ibu yang duduk paling belakang pindah ke arah depan, lalu berbisik ke mbak yang duduk di depannya. Segera si mbak mendekap tas tangannya. Kemudian seorang pria lain berdiri  dan pindah duduk ke samping mbak-mbak itu. Kemudian, ada ibu-ibu lain yang disebelah mbak-mbak pindah duduk ke belakangnya. #kusut

Intinya, ada 3 pencopet di sana. Dan ketiganya gagal, turun dari Metro Mini tersebut. Si Sopir yang mengetahui kejadian itu menghentikan busnya lalu bertanya kepada saya, "Ada yang hilang nggak?"
Ibu di belakang saya bingung, dan saya menjelaskan bahwa pria di sebelah saya itu copet. Lalu dua ibu yang pindah tempat duduk juga cerita bahwa dia duduk di sebelah copet juga. Tapi untung, tidak terjadi apa-apa.


Sebenarnya masih ada kisah lain saya bersama copet. Ada modus pura-pura sakit, pura-pura nanya jalan, pura-pura menawarkan tempat duduk, mau muntah, mau pingsan dan lain-lainnya. (--")  Saya hanya bisa share di sini, supaya yang lain bisa lebih waspada.


With love,


@semangkasegar






Kamis, 10 Mei 2012

sebuah doa


semoga hidup ini
kulalui dengan hati yang seterang bintang-bintang...
indah bertaburan..
tanpa kecewa, amarah, prasangka,
dan semoga selalu
kujalani perintahmu Tuhan...
bimbinglah diriku...
penuh kasih ya Maha Pengasih
doaku selalu....


Aku Beranjak Dewasa - Sherina
Selasa, 01 Mei 2012

laki-laki & perempuan dalam sebuah adat


Beberapa waktu ini, sudah 3 kali aku menuang air minum ke gelas minuman laki-laki. Entah kenapa, ketiganya selalu memandang dengan tanda tanya dan berkata, "Lah kan gue bisa langsung minum dari gelas elo"

diriku tersenyum.

Di adat keluargaku (dulu dan mungkin sekarang), laki-laki itu (terutama bapak) sebaiknya tidak minum dari gelas perempuan. Tapi si perempuan tidak masalah kalau minum dari gelas laki-laki. Kenapa?

Karena, cuma secara simbolis aja sih, laki-laki itu yang menafkahi perempuan, jadi maksudnya biar nggak 'pamali' aja, si laki-laki nggak bergantung sama perempuan (segi materi yaa... )

Terus kalau perempuan boleh minum dari gelas laki-laki artinya bergantung gitu? Nggak kok, kalau dipandangan keluarga gue, maksudnya bagaimana kita sebagai perempuan itu menghargai jerih payah laki-laki. Karena kita juga gak diharuskan untuk selalu minum dari gelas (bekas) laki-laki kok. Keputusan kita sendiri kan yang  mau minum langsung atau ambil gelas baru?

Yah, ini sih cuman contoh kecil aja, dan cuma untuk di share aja. Mungkin ada beberapa orang yang bingung sama hal-hal kecil (remeh) yang sering diriku lakukan. Karena pada intinya, laki-laki dan perempuan itu akan berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, saling menghargai dan menghormati sesuai kaedahnya.


with love *hug & kiss*

-semangka-




let's play Mao!

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Hello!

Foto Saya
semangkasegar
Aku kangen kamu.
Lihat profil lengkapku

tweet me

Followers