Senin, 21 Januari 2013

Bersamamu Aku Yakin



Selamat Pagi,

Hai kamu, apa kabar?
Hari ini aku cukup gembira karena matahari bersinar cukup cerah. Setidaknya, hari ini sudah normal kembali sehingga aku dapat mendengar suara kicauan burung, bel sepeda, suara tanah yang beradu dengan sapu lidi milik mbak-mbak cantik, suara tukang sayur, tukang roti, suara anak berlarian di depan rumah yang diiringi suara teriakan ibunya, mengejar, menangkap ingin memandikan mereka satu per satu. Hari ini indah.

Beranjak ke dapur, menemukan mama sedang berkutat dengan roti tawar dan selai coklat, dihidangkan untukku. Aromanya sungguh membuat otak ini mengirimkan sinyal kepada perutku. Aku lapar. Tanpa disuruh lagi, aku pun menjejalkan sepotong roti ke dalam mulutku, memuaskan nafsu lidahku. Lezatnya.

Dengan pakaian cerah aku melangkah pasti, menuju dunia. Sepagi ini hendak bertemu dengan orang-orang hebat, orang-orang giat, mereka yang sibuk menghitung uang, membagi berkah, menunggu waktu dan menanti harapan. Kamu tahu? Mereka sudah bangkit, bangkit kembali.

Aku hanya ingin supaya kamu tahu, aku sudah menemukan semangatku kembali, ya itu karenamu. Kamu bagaimana di sana? Apakah kebahagiaan yang telah aku titipkan kepada angin, telah sampai kepadamu? Jangan kamu kerutkan lagi wajahmu. Ayo tersenyumlah! Buktikan kepada dunia, kalau kamu masih kuat!

Aku tahu, kemarin baru saja berlalu, sekumpulan badai.
Tapi ingatkah kamu, yang dititipkan oleh Allah kepada Nabi Nuh? Janji dariNya untuk kita manusia. Semarah apapun Allah kepada kita, Ia akan memberikan suatu yang indah sebagai gantinya. Busur cantik dari Tuhan, dan manusia menamakan itu pelangi.

Lalu, di manakah pelangimu? Aku sungguh rindu melihat itu. Kamu ciptaan Tuhan yang terindah akan lebih indah lagi jika kau pasang janji Tuhan di sana.  Karena bersamamu aku yakin, kita akan berhasil melukis pelangi kita.



Minggu, 20 Januari 2013

Ini Rahasia, Rahasia Kita Berdua


Teruntuk kamu,

Aku mau beri tahu kamu, sebuah rahasia.
Rahasia yang akhirnya ini jadi rahasia kita berdua.
Tapi tolong satu hal dan jangan kau lupakan.
Jaga rahasia ini ya, sampai kapanpun juga.

Hai kamu,
Ayo kemari dulu, kita berlari-lari sebentar saja ya?
Aku ingin menikmati angin sore ini,
mencium bau tanah sehabis hujan,
Berlari-lari kecil, pelan-pelan.

Hai kamu,
Sini aku gandeng tanganmu sebentar,
dan biarkan ini bergerak sesuai irama,
Biar kamu bisa mengerti
Senangnya hati ini.

Hai kamu,
Sabarlah dahulu, tahan terus senyummu.
tenang saja nanti aku pasti beritahu,
satu rahasia yang sangat ingin aku ungkapkan,
kepadamu satu.

Baiklah,
Kamu duduklah di sini,
sebelah diriku,
di bawah pohon rindang ini,
akan ku ungkapkan rahasia besarku ini.

Siap-siap ya,
Ini dia rahasiaku, yang kusimpan sejak dulu.
Aku ingin sekali beritahu,
bahwa aku suka.

Suka sekali dengannya,
Bersediakah kau membantuku,
untuk menjadikan dia,
lebih dekat kepadaku?

Kepada Yang Ada di Sana


Kepada yang ada di sana,

Engkau sosok dewasa yang selama ini kucinta, sejak dulu.
ingin sekali memelukmu, tak ingin berpisah.

Engkau yang membuat tawa ini lepas,
menghentikan urai air mata yang deras.

Engkau yang membawa suka cita,
menghilangkan dukacita.

Engkau yang pandai merayu,
dan sangat bangga, memujiku.

Kepada yang ada di sana,

Beberapa kali engkau hadir dalam mimpiku,
tertawa dan bercengkrama denganku,
sungguh aku sangat rindu.

Ingin sekali kuputar waktu ku kembali,
ke masa yang dulu, dulu sekali.
hanya untuk memelukmu sekali lagi.
Kong Ho, kakekku yang sangat kucintai.
Kini aku, cucu pertamamu
sudah duapuluhan tahun,  tumbuh menjadi gadis.
hendak berubah dari ulat menjadi kupu-kupu yang manis.

Sepuluh tahun telah berlalu,
Engkau tetap ada di hatiku,
tak akan pernah kulupa,
cintamu kepadaku.

Tetap berada di sana,
di hati kita semua,




Selasa, 15 Januari 2013

Manisnya Jus Tomat


Jakarta, 15 Januari 2013

Teruntuk, Kak Tomat
di seberang sana.


Selamat Sore,
Hai kak tomat? Apa kabar? Aku harap, kabarmu luar biasa. Di sini, aku sangat gembira.

Hari ini, aku menulis surat hendak memberitahukan betapa bersyukurnya mengenalmu,
mengenal seluruh tulisan dan karyamu. Dan aku sangat suka, bagaimana dirimu merangkai kata demi kata
menjadi sebuah kalimat yang indah, terkadang membuatku terbang tinggi, tersenyum, dan pernah membuatku jatuh tapi membuatku berdiri kembali.

Satu hal lagi, terima kasih untuk mengajarkan aku kembali minum jus tomat.
Sudah kulakukan janjiku, kak! Hari ini, di hari ulang tahunku! Seharusnya aku abadikan momen tadi.

Akhirnya, dipenghujung surat ini, aku ucapkan selamat berkarya kak tomat, supaya aku tetap cinta dan merasakan manisnya jus tomat.




Salam Manis,


Mellisa Eka


Senin, 14 Januari 2013

Hari ini Mendung


Dear Kamu,

Hari ini mendung. Mengingatkan kita dulu.
Beberapa waktu yang lalu.
Ketika hujan turun lebatnya,
kita berdua, berteduh, tertawa bersama.

Mari kita putar waktu kembali.
Saat senyumanmu, menghangatkanku.
Membawaku masuk ke dalam duniamu.
Menyombongkan kelebihan masing-masing.
Memuji kelebihan satu sama lain.

Hari-hari berlalu,
kita berdua semakin dekat.
Dalam perasaan yang terasa semakin kuat.

Hari itu hujan,
Kita berteduh, tertawa bersama.
dan saat itu juga,
pertama kalinya kau genggam tanganku,
kau peluk diriku,
agar hangat mengalir dalam diriku.

Namun, waktu kita telah berlalu,
dan cerita kita terhenti.
Kau menghilang, pergi, membawa hati.

Maka kini,
sungguh kuminta darimu,
kembalilah kemari, hanya untuk mengambil potongan
hatiku yang kau bawa,

agar aku dapat jatuh cinta lagi.
dengannya.



Jumat, 02 November 2012

Musim Gugur


Musim gugur.
Daun jingga berguguran, angin berhembus. 
sejuk, agak dingin, kering.
 Aku berjalan dalam sepi,
mendendangkan lagu meniru dentingan.
 ... dan akhirnya kau datang. Senyumku mengembang.
 Bagai daun yang ingin jatuh dari rantingnya, hatiku juga (ingin) jatuh, padamu.
Jingga warnanya, aku tersenyum padamu. Berharap.

Kau menawarkan pelukan, untukku. Kau juga berikan suatu yang lain.
Musim gugur yang hangat.

Kita bercanda, kita tertawa, tanpa peduli angin semakin berhembus kencang.
Aku bercerita padamu, kau mendengarkan kisahku.
Aku tertawa, kau tersenyum padaku.
Sungguh indah.
Malam pun sudah tak sama.
Engkau di sana, tapi aku merasakannya di sini. di hati.
Oh Tuhan, apakah ini musim gugur terindah?

Suatu hari, engkau meraih tanganku. Erat.
Kita bergandengan tangan. Kuat.
Kau mau membawaku ke mana?
Aku memandang kejauhan, jalanan sudah menjadi jingga.
Kita melangkah. Kau berikan senyum untukku. Hangat.
Tak kan kulepas. 

Tak kusadari musim gugur ini akan berakhir.
Tak sehangat dulu, hanya dingin kurasakan.
Daun semakin kering, menggelap.

Kau juga.
Kau musim gugurku, telah berubah.
jemariku sudah tak kau genggam.
Hatiku telah kau gugurkan, kau biarkan kering.
lalu beku.

Aku benci musim ini.
Sudah tak ada jingga, hanya putih sepanjang pandangan mata.











 



Senin, 06 Agustus 2012

Kisah Manis Hari Jumat


Hari ini bukan hari biasa. Seharian, mataku sudah cukup lelah harus memandangi layar monitor. Aku angkat tasku dengan penuh semangat, menyambut akhir pekan.

"Gue pulang ya....", senyumku merekah ke rekan kerjaku. "Sampai jumpa besok Senin"

Keluarnya dari sana, aku melangkah pasti menuju halte transjakarta. Kali ini, berbeda dari biasanya, aku memilih halte yang lain.  Aku hanya tak ingin mengantri terlalu lama. Pengalaman terakhir mengantri selama 1,5 jam penuh sangat membuang waktu dan menguras tenaga. Maka kupilih halte ini walaupun aku harus berdiri selama 1 jam perjalanan, yang penting lebih cepat sampai.

Karena ini hari Jumat, banyak yang ingin pulang tepat waktu. Halte penuh dengan calon penumpang. Tak perlu kuatir, bus pun datang. Aku terdorong masuk ke bagian belakang bus yang notabene itu area laki-laki. Berjinjit sedikit, berusaha meraih pegangan. Bus pun berangkat.

Baru saja berhenti di satu halte berikutnya, aku menengok ke belakang. Banyak calon penumpang baru yang akan masuk. Oh Tuhan, semoga aku kuat selama satu jam ke depan. Pintu bus terbuka, akhirnya bagaikan zombie kelaparan penumpang-penumpang masuk. Muncul seorang laki-laki muda,  terlihat kesal berdiri di sampingku. Ia menengok, aku membuang muka, malu kalau lagi memperhatikan dirinya. Pintu bus tertutup, bus mulai bergerak.

Bus bergoyang ke sana kemari. Karena aku berpegangan dengan tangan kanan, sedangkan dia kedua tangannya bergelayutan, tanpa sengaja lenganku dan lengannya bersentuhan. Ia menengok tapi diam saja. Mau bergeser juga tak bisa.

Karena hanya kemacetan yang terlihat di luar sana atau pemandangan Monas dengan lampu warna-warninya, akhirnya aku malah memperhatikan laki-laki sebelahku. Tubuhnya agak gemuk mengenakan poloshirt biru tua, matanya yang sipit dibingkai manis dengan kacamatanya, potongan rambutnya sangat cocok dengan bentuk wajahnya yang bulat.

"Eh maaf..", ucapku pelan. Baru saja bus transjakarta yang kutumpangi ngerem mendadak. Otomatis, tubuhku bertubrukan dengan tubuhnya. Dia melihatku, diam saja. Aku menarik napas, membuangnya pelan. Lalu, aku memperhatikannya lagi. "Dia siapa ya? Kerja di mana? Mengapa wajahnya begitu kesal?"

... dan ia menoleh padaku. Lagi. dan aku membuang muka. Lagi.

Aku putuskan untuk tidak memperhatikannya. Malu, alasanku. Aku mengarahkan pandanganku ke seorang bapak, yang berdiri di ujung. Kepalanya mengangguk-angguk, matanya sesekali terpejam. Ia mengantuk. Pasti hari ini ia sudah bekerja keras dan ingin pulang cepat, bertemu istri dan anaknya.

Bahuku ditepuk. Olehnya. Laki-laki berpoloshirt biru tadi. Iya, yang disebelahku. Aku menoleh, ia menunjuk kursi kosong di depannya. Meminta agar aku duduk. "Terima kasih, ya". Ia mengangguk. Jadi, sekarang aku duduk berhadapan dengan dirinya yang sedang berdiri. Bus kembali bergerak. Aku jadi memperhatikannya lagi. Dia masih diam saja, memandangi pemandangan di luar bus. "Kesal kenapa sih wajahmu itu?" Dan dia kembali melihat ke arah ku! Oh Tuhan, aku malu.

Bus berhenti. Dia bergerak pelan menuju pintu. Oh dia sudah sampai tujuannya. Semoga dia cepat sampai rumah, istirahat dan kembali ceria. Aku memandangi punggungnya, dan ia menengok ke arahku. Kali ini aku tak membuang muka, tak tersenyum juga. Ia keluar dari bus, berjalan keluar. Aku tersenyum.

"Terima kasih lho, buat bangkunya" . Aku memejamkan mata, perjalananku masih setengah jam lagi. "Semoga kita bertemu lagi ya,  saat wajahmu sudah cerah."


***



let's play Mao!

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Hello!

Foto Saya
semangkasegar
Aku kangen kamu.
Lihat profil lengkapku

tweet me

Followers